Bulan Pelepasan Tukik Terbanyak: Lebih dari 20.000 Tukik Akan Dilepasliarkan di Paloh
Lebih dari 20.000 tukik akan dilepasliarkan di pesisir Paloh, Sambas, Kalimantan Barat dari bulan Oktober-November 2025 secara bertahap, menjadikannya bulan pelepasan tukik terbanyak sepanjang sejarah konservasi penyu di wilayah ini. Kegiatan kolaboratif antara Pokmaswas Kambau Borneo dan Pokdarwis Tanjung Api, yang didukung oleh berbagai pihak pemerintah dan non-pemerintah, menjadi tanda keberhasilan masyarakat pesisir untuk menjaga kelestarian penyu selama lebih dari 12 tahun secara mandiri.
SAMBAS – Kawasan pesisir Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, tengah memasuki momen bersejarah dalam upaya pelestarian satwa laut. Selama Oktober hingga November 2025, lebih dari 20.000 ekor tukik atau anak penyu akan dilepasliarkan ke laut lepas. Jumlah ini menjadi yang terbanyak sepanjang kegiatan konservasi penyu di wilayah tersebut.
Kegiatan ini digagas oleh Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kambau Borneo, yang berkolaborasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjung Api dan Yayasan Sealife Indonesia dengan mengusung tema “Bulan Pelepasan Tukik Terbanyak” sebagai simbol keberhasilan masyarakat pesisir menjaga kelestarian penyu.
Ketua Pokmaswas Kambau Borneo, Jefriden atau yang akrab disapa Long Ejep, menjelaskan bahwa pelepasan dilakukan secara bertahap selama empat pekan untuk menyesuaikan waktu penetasan tukik.
“Sebanyak 20.000 tukik akan dilepasliarkan bertahap selama empat minggu. Setiap pekan, sekitar 5.000 ekor akan dilepas. Hari ini kami bersama SMK Kesehatan dan Yayasan Sealife Indonesia telah melepas 5.000 ekor di pagi dan sore hari,” ujar Ejep, Minggu (26/10/2025).
Rangkaian pelepasan berikutnya dijadwalkan pada 2 November, 9 November, dan ditutup pada 15 November 2025, yang rencananya juga akan diramaikan dengan pesta rakyat di pesisir Tanjung Api. Ejep menjelaskan, tukik-tukik yang akan dilepasliarkan berasal dari hasil relokasi dan penetasan semi alami dari sekitar 670 sarang penyu yang ditemukan antara Juli hingga September 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 34.000 butir telur berhasil direlokasi dan ditetaskan oleh Pokmaswas Kambau Borneo.
“Relokasi dilakukan untuk mencegah perburuan telur dan ancaman predator, sekaligus memudahkan pendataan serta pengembangan wisata edukasi konservasi penyu,” tambahnya.
Wisata Edukasi Konservasi Penyu
Ketua Pokdarwis Tanjung Api, Muraizi, menuturkan bahwa kegiatan ini tidak hanya penting untuk menjaga populasi penyu, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat melalui wisata edukasi berbasis konservasi.
“Sejak 2022, kami mengembangkan kawasan konservasi menjadi wisata edukatif agar masyarakat bisa terlibat langsung dalam pelestarian,” jelasnya.
Alih-alih mengenakan tiket masuk, pengunjung yang ingin melihat atau ikut melepas tukik hanya diminta donasi sukarela. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan operasional seperti pakan penyu, perawatan fasilitas, hingga biaya penjaga pantai dari Pokmaswas Kambau Borneo. Sistem donasi ini bukan sekadar untuk menghindari retribusi, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat bahwa pelestarian butuh dukungan nyata.
Meski belum mendapat dukungan dana tetap dari pemerintah sejak kewenangan konservasi tidak lagi di kabupaten, masyarakat Paloh terus berinovasi agar kegiatan konservasi tetap berjalan.
“Kadang ada bantuan, kadang tidak. Jadi kami harus terus berinovasi supaya kegiatan konservasi tetap berjalan. Pelestarian bukan hanya soal penyu, tapi juga tentang orang yang menjaga. Kalau mereka lelah dan berhenti, siapa lagi yang akan peduli?” tegasnya.
Meski berjalan dengan segala keterbatasan, semangat Pokdarwis Tanjung Api menjadi bukti nyata bahwa kepedulian masyarakat pesisir mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem laut Kalimantan Barat dari ancaman kepunahan.
Apresiasi dari Yayasan Sealife Indonesia
Dwi Suprapti dari Yayasan Sealife Indonesia, memberikan apresiasi tinggi terhadap keberhasilan Pokmaswas Kambau Borneo dan Pokdarwis Tanjung Api yang secara mandiri menjaga keberlangsungan konservasi penyu selama lebih dari 12 tahun.
“Meskipun tantangan yang dihadapi oleh Pokmaswas Kambau Borneo tidak mudah dan masih terus perlu dilakukan perbaikan prosedur, namun secara umum lembaga ini perlu diapresiasi karena mampu bertahan dan mengelola konservasi penyu secara mandiri dan berhasil menetaskan tukik lebih dari 20.000 dalam waktu 2 bulan” ujar Dwi.
Menurut Dwi, jumlah tukik yang akan dilepas di Paloh bahkan melampaui rekor MURI tahun 2022 di Bali, yang mencatat pelepasan 15.000 tukik. Ia juga menilai langkah Pokmaswas Kambau Borneo untuk melepas tukik bertahap sesuai waktu penetasan sudah tepat, karena menjaga peluang hidup tukik lebih tinggi.
“Menahan tukik terlalu lama dapat membuat cadangan makanan alami di tubuhnya menipis dan mengancam kelangsungan hidupnya. Pelepasan bertahap seperti ini adalah metode terbaik,” jelas Dwi.
Pelepasan yang dilakukan bertahap juga mengurangi risiko serangan predator dan kematian masal akibat pelepasan dalam jumlah besar di satu waktu dan lokasi. Dwi juga menjelaskan bahwa pelepasan penyu memang sebaiknya menyesuaikan waktu penetasan, jangan dikumpulkan dan ditahan lebih dari seminggu karena akan menyebabkan cadangan makanan alami (Yolk) ditubuh tukik menipis sehingga kematian dapat mengancam kehidupannya saat dilepasliarkan. Pola-pola memelihara tukik dalam waktu lama, membesarkannya baru dilepasliarkan adalah pola yang kurang tepat. Untuk itu, Dwi mengapresiasi langkah yang dilakukan Pokmaswas Kambau Borneo yang tidak ambisius melepaskan tukik 20.000 sekaligus namun tetap disesuaikan dengan waktu penetasannya dan dibagi menjadi 8 periode pelepasan agar peluang hidup tukik lebih tinggi saat dilepaskan.
Keberhasilan konservasi penyu yang dilakukan oleh Pokmaswas Kambau Borneo dan Pokdarwis Tanjung Api tidak terlepas dari dukungan panjang dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, kabupaten, provinsi, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, hingga perusahaan swasta melalui program CSR, maupun dukungan dari kelompok-kelompok masyarakat lainnya.
“Kolaborasi ini perlu terus dipelihara demi kelestarian penyu di Paloh dan peningkatan pendapatan masyarakat lokal dari efek domino wisata edukasi yang ramah penyu.” tutup Dwi.
Dengan semangat kolektif dan kerja sama lintas sektor, kegiatan ini kembali menjadi bukti bahwa kelompok-kelompok masyarakat seperti Pokmaswas Kambau Borneo dan Pokdarwis Tanjung Api sebagai garda terdepan konservasi penyu di Kalimantan Barat, sekaligus contoh nyata bagaimana masyarakat lokal mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan kesejahteraan sosial.